Tampilkan postingan dengan label Parenting Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting Books. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 27, 2015

Mini Ensiklopedia MP-ASI SEHAT



Judul Buku          : Mini Ensiklopedia MP-ASI SEHAT
Penulis                : Tim Admin Homemade Healty Baby Food (HHBF)*
Penerbit              : PandaMedia, imprint Gagas Media
Tahun                 : 2015
Hal                      : 247
ISBN                   : 978-979-780-800-6










Mini Ensiklopedia MP-ASI SEHAT

Banyak para Mama yang kini memasak sendiri makanan pendamping ASI nya alias tidak instan, alasannya agar lebih sehat  karena tidak ada penambahan gula, garam, penyedap rasa (MSG) dan pengawet. Selain itu MP-ASI rumahan juga lebih hemat, bahan mudah di dapat, variatif dan sehat alami.

MP-ASI di kenalkan pada bayi usia 6 bulan setelah lulus ASI ekslusif alasannya karena pada usia ini sistem pencernaan bayi sudah berkembang lebih baik dan siap menerima makanan selain ASI.  Sedangkan pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan agar bayi mendapat gizi sempurna dari ASI yang mengandung imunitas.

Ada beberapa resiko jika bayi di berikan MP-ASI di bawah usia 6 bulan diantaranya terganggunya sistem pencernaan bayi karena sistem pencernaannya belum siap menerima makanan selain ASI. Akibatnya bayi beresiko mengalami konstipasi, kembung dan mual. Pada usia di bawah 6 bulan enzim amilase dan lipase, enzim pemecah karbohidrat dan lemak jumlahnya belum banyak.

WHO merekomendasikan MP-ASI di buat dari makanan sehat alami dan bervariasi untuk memenuhi kriteria gizi seimbang.

kenapa MP-ASI sebaiknya tanpa gula dan garam?  Bayi membutuhkan gula dan garam dalam jumlah sedikit dan itu sudah terpenuhi dari ASI dan sumber makanan MP-ASI seperti sayuran, buah, sumber  karbohidrat lemak dan protein.

Agar MP-ASI tak terasa hambar dan tetap enak tambahkan bumbu dan rempah dalam olahan MP-ASI. Dan sebagai negara tropis, kita patut bersyukur dengan beragamnya bumbu dan rempah yang mudah di dapat. Bumbu dan rempah apa saja, bagaimana takarannya? Apa manfaatnya selain menambah rasa? Semuanya di ulas tuntas di bab Bumbu hal 24 buku ini.
Trend pola makana dengan  food combining mulai merambah MP-ASI. Apakah benar FC bisa diterapkan pada MP-ASI?

Pola FC tidak dianjurkan diterapkan pada anak dan remaja dalam masa pertumbuhan. Karena dalam masa pertumbuhan bayi dan anak memerlukan kebutuhan protein tinggi dan dalam satu porsi harus mengandung nutrisi yang lengkap sesuai rekomendasi panduan MP-Asi WHO.

Namun begitu pola FC dapat di adaptasi berdasarkan pakar gizi Wied Harry. Adaptasi pola FC di terapkan untuk mengenalkan beragam makanan pada bayi secara bertahap (hal 54).
Peralatan untuk mengolah dan membuat MP-ASI dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan yang ada di rumah, pada intinya harus di olah dengan cara sehat dan tingkat kehalusan makanan di sesuaikan usia bayi.

Selain pengolahan yang sehat harus di perhatikan juga cara penyimpanan karena biasanya para Mama membuat MP-ASI untuk beberapa kali makan dengan alasan kepraktisan dan hemat waktu.

Karena sistem percernaan dan reaksi bayi masih sensitif dan rentan terhadap beberapa makanan, makan Ibu sebaiknya mengenal jenis sumber MP-ASI dan kemungkinan reaksinya pada bayi. Misalnya, kapan sebaiknya di kenalkan pada olahan seafood dan kacang-kacangan karena kedua makanan ini paling banyak pemicu alergi pada beberapa bayi. Mengenai  sumber makanan MP-ASI di bahas secara lengkap di bab sumber bahan-bahan MP-ASI hal 100.

Sesuai judulnya sebagai mini ensiklopedia MP-ASI, buku ini berisi panduan lengkap mengenai MP-ASI rumahan, dari pengenalan mengenai MP-ASI yang di rekomendasikan WHO berikut alasannya, fungsi peralatan masak dalam menyiapkan MP-ASI, cara pengolahan, penyimpanan , penyajian dan resep. Yap, di bagian akhir buku ini ada beberapa resep yang bisa di contek. Resepnya bervariasi dan mudah di praktikkan. Tulisan dalam setiap bab di sertai daftar referensi.

Menurut saya kemasan buku ini cukup luxs, kertasnya tebal, mengkilap, gambar dan fotonya berwarna. Ilustrasi bukunya juga menarik. Bagaimanapun menampilan buku alias kalau eye catching, selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk semangat membaca bukan?

Recommend buat Moms yang siap atau sedang memberikan MP-ASI rumahan.

ilustrasi dan warna eye catching

*Homemade Healty Baby Food (HHBF) adalah komunitas parenting di dunia maya yang menggunakan basis media sosial facebook. Merupakan komunitas sara sharing apra orangtua dalam membuat makanan sehat untuk putra-putrinya.



Jumat, Januari 23, 2015

@Tentang Anak


Judul Buku          : Tentang Anak  
Penulis                 : Joko Dwinanto
Penerbit              : Noura Books
Tahun                   : November 2014
Hal                          : 227
ISBN                      : 978-602-1306-68-0

Tentang Anak

Berbicara tentang anak-anak tak akan pernah habis. Tingkahnya yang lucu, menggemaskan, penuh kejutan cerdas sekaligus menuntut kesabaran lebih. Mereka tengah berproses dan membutuhkan bimbingan Ayah dan bunda. Ya, bukan hanya Bunda juga Ayah. Karena ada pembelajaran dari sosok Ayah yang tidak bisa di gantikan Bunda. Sebut saja misal ketegasan, perasaan rasa aman,  dilindungi dan tanggung jawab. Kehadiran Ayah mendampingi tumbuh kembang membuat anak belajar arti tanggung jawab terhadap keluarga.

Kesibukan dan kemacetan yang menghabiskan waktu sekian jam di perjalanan pulang pergi kantor, biasanya menjadi alasan para Ayah  tidak  miliki waktu dengan anak-anak. Padahal kelak, sedikitnya waktu yang dihabiskan dengan anak-anak adalah salah satu dari sekian banyak hal yang kerap di sesali para orangtua saat anak-anak mereka dewasa. Menyesal tidak bermain bersama anak, menyesal tidak mendorong anak untuk memiliki hobi tertentu, menyesal tidak menikmati jalan-jalan bersama anak, menyesal tidak pergi berlibur bersama-sama dsb (hal 53).

Salah satu cara mensiasati waktu yang terbatas agar berkualitas dengan anak-anak adalah, letakkan gadget saat di rumah dan fokuskan perhatian pada anak-anak.

Selain waktu, tantangan terbesar orangtua masa kini adalah keberadaan tv dan games termasuk di dalamnya game online. Beberapa games atau film yang mengandung unsur kekerasan di kemas secara halus dan dalam konteks anak-anak sehingga baik orangtua maupun anak tidak menyadari bahayanya. Berdasarkan sebuah penelitian di Inggris yang di paparkan dalam buku ini membuktikan, games yang mengandung kekerasan membuat anak menjadi terbiasa dengan perilaku kekerasan dan tidak peduli terhadap kesulitan orang lain (hal 96). Begitupun tayangan tv, sebaiknya orangtua mengontrol game dan TV yang di tonton anak-anak dan membatasi waktunya.

Sebaiknya ada banyak hal positif mendekatkan anak dengan buku. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk membudayakan kebiasaan membacakan buku. Hanya dengan bermodalkan buku dan kemauan yang kuat dari orangtua (hal 104).

Sebenarnya, setiap orangtua sudah dibekali naluri, bagaimana membimbing dan mendidik anak. Namun ada kalanya mengandalkan naluri saja tidak cukup, karena saat berhadapan dengan anak dengan perilakunya yang berubah-rubah dan sifat egonya yang masih dominan, sering memancing emosi negatif orangtua. Pada saat yang sama, adakalanya orangtua di dera stress dengan atau tanpa disadari, entah karena pekerjaan di kantor atau masalah lain. Tanpa pemahaman yang cukup mengenai karakter anak pada setiap rentang usia alias hanya mengandalkan naluri saja, besar kemungkinan para orangtua lebih mudah terpancing emosi negatifnya saat mendidik mereka.

Tanpa pemahaman yang baik mengenai anak juga dapat menjebak orangtua dalam pola asuh salah tanpa disadari. Sepertinya misalnya, sikap terlalu memanjakan dan selalu membantu anak saat ia tengah berproses belajar. Sikap yang justru akan menghancurkan anak di masa depannya karena anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak kokoh dan tidak mandiri. Ada saatnya anak benar-benar perlu di tuntun ada saatnya orangtua hanya bertugas menjadi fasilitator dan pembimbing.

Di sinilah pentingnya para orangtua belajar ilmu mengenai pengasuhan. Beberapa orangtua menganggap belajar ilmu pengasuhan itu ribet, menjelimet karena harus ini itu sehingga memilih mengandalkan insting saja.

Padahal Parenting is supposed to be fun! Membaca buku tentang anak yang ditulis Joko Dwinanto  ini  memang terasa kalau mengasuh anak itu sesuatu yang menyenangkan selain  gaya bahasanya yang santai, juga disajikan dengan lucu, jujur dan simple, membuat jarak dengan pembaca dekat. Hal lain yang berbeda, ditulis dalam perspektif seorang Ayah. Tulisan-tulisan dengan tema Ayahnya terasa lebih mengena, seperti di bab lembur, lelaki sejati, peran ayah dan ketika kau merokok.

Buku ini merupakan paparan dari tweet akun TentangAnak milik penulis. Tidak hanya soal mendidik anak, buku ini juga mengangkat isu-isu yang selalu hangat di antara para orangtua seperti hubungan menantu dan mertua, babyblues, sufor vs UHT dan masih banyak lagi.

Di bagi dalam bab-bab pendek sesuai tema, dipaparkan dengan singkat dan padat. Cocok untuk para orangtua yang merasa sibuk tak ada waktu untuk membaca.


Saat anda sudah menjadi orangtua, tak ada pilihan lain selain belajar memahami dunia anak-anak dan membimbing mereka.

Rabu, Januari 07, 2015

Nikah itu Asik



Judul Buku          : Nikah Asik ga Pake Ribet
Penulis                 : @nikahasik
Penerbit              : Visimedia
Tahun                   : 2014
Hal                          : 198
ISBN                      : 978-979-065-223-1
                                                                               









Nikah itu Asik


Buat kamu yang masih jomblo. Ya kamu! Nggak usah bersedih karena jomblo bukan sesuatu yang aib, yakin saja Allah sudah menentukan jodoh kamu, tinggal berusaha dan berdoa untuk  menemukannya.

Jika sudah ketemu tak perlu pacaran berlama-lama, karena lamanya pacaran tidak menjamin kesuksesan kamu kelak dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan yang pasti pacaran terlalu lama malah mendekatkanmu pada godaan syahwat.

Segeralah menikah karena nikah itu asik. Kalau nikah asik kenapa banyak pasangan suami istri yang memilh bercerai? Karena nikah itu asik jika tahu ilmunya.

Yang pertama dan utama adalah niat. Asal niat tepat, bukan asal nikah cepat (hal 11). Niat yang salah tidak akan membawa kebaikan. Lalu tentukan visi dan misi, pernikahan seperti apakah yang kamu inginkan kelak? Dan jabarkan cara mencapainya. Setelah itu buat komitmen diantara kamu dan calon suami/istri. Seperti rencana jumlah anak? apakah istri boleh tetap bekerja atau menjadi ibu rumah tangga dsb.

Menikah cepat dan tepat bukan berarti tanpa modal. Karena pernikahan bukan hal yang main-main. Butuh banyak persiapan. Ibarat mahkota yang akan berlayar mengarungi samudra, butuh banyak bekal dan perencanaan sebelum meninggalkan pelabuhan (hal 21).

Sedikitnya kamu perlu lima modal sebelum memutuskan menikahi calon suami/istri. Yang pertama modal psikologis. Beberapa cara menumbuhkan modal psikologis adalah dengan cara mengikuti seminar pranikah, membaca buku atau majalah dengan pernikahan. Dan perbanyaklah ibadah dan sedekah. Kedua adalah modal fisik, modal ini perhubungan dengan kesiapan  sebagai suami/istri secara biologis. Organ reproduksi dalam keadaan prima, pada perempuan itu terjadi pada usia antara 21-35 tahun, di atas atau di bawah itu beresiko terhadap kesehatan ibu dan janin.

Ketiga modal keuangan, modal keuangan di sini bukan hanya modal untuk biaya pernikahannya tapi modal keuangan setelah menikah seperti biaya hidup sehari-hari, mencicil atau mengontrak rumah, rencana keuangan masa depan seperti pendidikan anak, asuransi kesehatan dsb. Modal keuangan harus menjadi fokus utama laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Tapi bukan berarti menikah harus menunggu mapan. Tapi bagaimana  agar modal keuangan itu diperjuangkan bersamaan dengan mengarungi bahtera rumah tangga.

Keempat modal ilmu berumah tangga, modal inilah yang kerap diabaikan karena menganggap rumah tangga bisa diarungi cukup dengan naluri menjadi suami/istri. Ilmu ini bisa di dapat dengan membaca buku. Kelima, modal pasangan. Menikah tidak akan terlaksana tanpa ada pasangan jadi temukan calon kamu. Keenam, modal restu dari orangtua.

Beberapa orang menunda pernikahan (padahal calon sudah ada) dengan alasan belum cukup uang untuk pesta pernikahan. Ehm, biaya pesta pernikahan memang mahal tapi itu  pilihan. Jika itu alasan menunda pernikahan, sebaiknya kembali tengok niat, misi dan visi saat memutuskan akan menikah. Mengundang teman dan kerabat memang ada baiknya tapi tidak melulu membutuhkan biaya besar. Ada banyak hal yang bisa di hemat, salah satunya seperti yang disarankan penulsi buku ini yaitu membuat undangan sederhana.

Setelah menikah dan mulai mengarungi kehidupan pernikahan sesungguhnya, di sinilah pentingnya suami dan istri tahu ilmu berumah tangga. Tahu karakter dominan yang membedakan laki-laki dan perempuan. Atau meminjam istilahnya John Gray, harus tahu kalau laki-laki itu berasal dari planet mars dan perempuan berasal dari planet venus. Artinya laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang berbeda, untuk itu perlu  belajar saling memahami. Ilmu rumah tangga juga menyangkut ilmu mengelola keuangan keluarga, merencakana kehamilan, hamil dan mendidik anak.

Pernikahan yang menjanjikan surga di dunia dan akhirat tak bisa tercapai jika suami/istri saja yang menguatkan ikatannya. Disinilah pentingnya komunikasi atau keterbukaan bahasan ini di kupas secara detail di bab VI buku ini.

Jika masih ragu untuk menikah sebaiknya baca buku ini. Buku yang ditulis dengan bahasa ringan nan segar ini bukan hanya akan membuka wawasan tentang bagaimana asiknya menikah tanpa ribet, juga beragam tips penting seputar menikah seperti bagaimana menemukan jodoh yang tepat tanpa pacaran? Bagaimana meminta restu orangtua jika seandainya mereka tidak menyukai pilihan kita?

Selain beragam teori buku ini juga di sisipi beberapa cerita inspiratif seputar pernikahan yang kemungkinan membuat pembaca bersemangat untuk menunaikan niat  menikah. Pernikahan adalah sarana penghalal bukan penghalang (hal 1).




Senin, Desember 15, 2014

Bahagia Ketika Ikhlas



Judul Buku          : Bahagia Ketika Ikhlas  
Penulis                 : Rena Puspa
Penerbit              : Elex Media Komputindo
Tahun                   : 2014
Hal                        : 186
ISBN                    : 978-602-02-4557-7

Bahagia Ketika Ikhlas

Salah satu kebahagian seorang perempuan adalah ketika menyandang gelar ibu. Tuhan pun melengkapinya dengan naluri keibuan yang berkembang secara alami melalui proses kehamilan, melahirkan dan menyusui.

Hormon-hormon yang bekerja pada ketiga proses itu sebenarnya yang membuat seorang wanita selalu ingin menyempurnakan perannya sebagai ibu. Perasaan ingin menyayangi, merawat, memelihara dengan penuh kesungguhan dan kasih sayang sebenarnya memang di dominasi oleh peran hormon-hormon yang ada pada proses kehamilan, kelahiran, dan menyusui, yaitu adanya hormon estrogen, progesteron, oksitosin, dan dopamin. (hal 3)

Namun pada saat yang bersamaan peran ibu menimbulkan rasa cemas karena banyak perubahan yang terjadi dari mulai rutinitas, perubahan fisik, maupun psikologis. Kecemasan yang juga pernah saya alami.

Perubahan fisik yang umumnya di cemaskan adalah gemuk dan  tidak cantik. Setelah bayi lahir dan menyusui, kecemasan lebih terfokus pada bayi. Cemas ASI tidak mencukupi, tidak bisa mengurus bayi, rasa bersalah berlebihan membayangkan kelak bayi akan di tinggal bekerja, yang semuanya berujung pada rasa sedih dan merasa tidak berharga. Kecemasan yang sebenarnya merupakan gejala bahwa ibu mengalami baby blues sydrome.

Baby blues sydrome di alami 50%-80% ibu baru melahirkan dan umumnya akan hilang dengan sendirinya. Namun pada beberapa kasus bisa berubah menjadi depresi yang berkepanjangan dan akut. Kondisi ini biasanya tidak di sadari ibu ataupun orang-orang di dekatnya, sampai si ibu melakukan tindakan berbahaya seperti menghabisi sendiri nyawa anaknya dengan alasan sayang. Beberapa contoh kasusnya bisa di baca di halaman 10.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Perubahan hormon selama proses hamil, melahirkan dan menyusui sangat berpengaruh, jadi bisa di katakan setiap ibu  memiliki peluang stres yang sama. Namun dari berbagai macam peran ganda yang di emban  ibu, yaitu ibu bekerja, ibu bekerja dari rumah dan ibu rumah tangga, maka ibu rumah tanggalah yang memiliki peluang stres lebih besar.

Ada tiga alasan utama yang menyebabkan ibu rumah tangga memiliki peluang stres lebih besar yaitu perasaan minimnya apresiasi atau penghargaan yang diberikan,  merasa tidak memiliki aktualisasi diri dan akibat peran ibu itu sendiri yang harus mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga, anak dan suami dalam waktu hampir bersamaan. Ehm, setelah melepas label working mom setahun silam, saya tahu rasanya stres karena pekerjaan rumah tangga yang tak kunjung habis, harus mendampingi anak-anak pada saat bersamaan ingin menikmati waktu untuk diri sendiri.

Sebagian masyarakat memahami konsep aktualisasi diri dengan pencapaian besar yang dilakukan di luar rumah atau karir padahal menurut teori Maslow yang di kutip dalam buku ini (hal 5), aktualisasi diri adalah hasrat untuk mengoptimalkan pontensi diri, tanpa sekat di luar atau di dalam rumah.

Dan solusi agar ibu tidak terjebak dalam stres tapi bahagia  adalah ikhlas dalam menjalani peran sebagai ibu, dalam suka maupun duka. Konsep ikhlas dalam buku ini dibangun dari pemahaman terhadap surat Al-Ikhlas (QS ke - 112   dalam Al-Qur’an) yang artinya Esa, yaitu saat hati dan pikiran hanya di fokuskan untuk Allah swt semata.

Sikap ikhlas sejati bukan sebuah sikap menerima apa adanya namun sedang menekan rasa kecewa, tapi sebuah penerimaan yang tulus dengan kondisi apa pun termasuk saat sedang mengalami kekecewaan, di mana kekecewaan itu tidak kita tekan keberadaannya, namun kita terima apa adanya dengan penuh ketulusan sebagai bagian dari diri kita (hal 108).

Artinya, ikhlas sejati bukan sikap menerima dengan cara menekan rasa kecewa, tapi menerima dengan  tulus kondisi sulit yang menimpa sebagai bagian dari diri kita.

Ikhlas mudah di ucapkan tapi sulit di praktikkan, ungkapan itu mungkin kerap kita dengar. Jadi bagaimana agar ikhlas mendatangkan kebahagian dan ketenangan? Paparannya di jelaskan pada hal 164.

Pada bab 5  penulis memaparkannya dengan rinci bagaimana meraih bahagia dengan konsep ikhlas yang dibarengi dzikir (doa) akan melahirkan sikap tidak mudah menyerah.

Sikap syukur yang terjadi sebagai bentuk pelaksaan konsep ikhlas yang tepat, akan membuat orang ingin bergerak melakukan yang terbaik tanpa henti, dan selalu ingin lebih memaksimalkan potensi  terbaik dirinya, karena dia paham semua yang dia terima adalah amanah dari Allah yang harus selalu dia maksimalkan potensinya seoptimal mungkin (hal 117).

Di bab sebelumnya yaitu bab 4, penulis memaparkan bagaimana menanamkan kebahagian dengan tetap menjadi diri sendiri walaupun pilihan yang kita ambil tidak sesuai keinginan. Ini sesuai dengan ungkapan bahwa kebahagian itu pilihan bukan takdir. Artinya, baik ibu rumah tangga, ibu bekerja ataupun ibu bekerja dari rumah memiliki peluang bahagia yang sama karena  kita sendiri yang menentukan mau hidup bahagia atau tidak. 

Sedangkan pembahasan secara rinci mengenai dua faktor utama penyebab stres yaitu hormonal dan eksternal ada di bab 2 dan 3. Di kedua bab ini penulis memberikan beragam tips bagaimana mengelola emosi dan kesibukan agar tidak menjadi memicu stres. Seperti managemen membereskan beragam kegiatan domestik  rumah tangga yaitu mencuci mencuci, memasak dan menyetrika. Kiat dalam menjalani berbagai peran sebagai ibu bagi anak balita, anak, remaja dan sebagai istri di paparkan juga dalam bab 3.

Di bab 6 sekaligus bab penutup, penulis meluruskan  konsep bahagia dan sukses yang selama ini dipahami dengan cara bersebrangan, meraih sukses dengan mengorbankan kebahagian atau sebaliknya. Lalu bagaimana mencapai kesuksesan dengan bahagia? Jawabannya ada di bab ini.

Kekurangan buku ini terletak pada tata bahasa.  Terdapat kalimat-kalimat panjang yang tidak efektif, dua kata bermakna sama dalam satu kalimat,  dan pengulangan  kata.

Seperti di hal 4; Kebanyakan para ibu rumah tangga biasa (full time mom) kesulitan memaknai peran besarnya sebagai seorang ibu, hanya karena mereka diam saja di dalam rumah itu artinya tidak berarti dan tidak bermanfaat.

Mungkin maksud kalimatnya seperti ini; Kebanyakan para ibu rumah tangga biasa (full time mom) kesulitan memaknai peran besarnya sebagai seorang ibu, mereka merasa tidak berarti dan tidak bermanfaat karena berdiam diri di rumah.

Dan stres yang bertumpuk jika tidak dikelola dengan baik akan berubah menjadi fenomena bola salju, yang semakin hari semakin membesar, sehingga akhirnya efek stres itu akan menutup potensi – potensi baik yang sejatinya sudah ada pada diri seorang ibu.

Terdapat dua kata dengan makna sama pada kalimat di atas. Makna fenomena bola salju adalah semakin lama semakin membesar. Kata sehingga akhirnya dan efek, menunjukkan akibat atau efek.

Atau penggunaan kalimat; tidak melulu hanya yang bisa di reduksi menjadi tidak hanya atau tidak melulu karena maknanya sama.

Pengulangan kata ‘dia’, double  kata sambung di paragraf 2 hal 116,  dapat dihilangkan agar kalimat menjadi efektif dan tidak bertele-tele. Begitupun pada paragraf 3 hal 117.

Kesalahan yang sama di jumpai di halaman lain. Kesalahan yang seharusnya tidak terjadi jika editor* lebih teliti.

Tanpa  bermaksud sengaja mencari-cari kekurangan buku ini tapi karena terbaca begitu saja.  semoga bisa menjadi masukan jika buku di cetak ulang. 

Menurut saya penggunaan kalimat efektif dan lugas penting agar mudah di pahami dan dicerna pembaca terlebih ini adalah buku non fiksi dan bersifat selp help.

Hal lain adalah contoh kasus di hal 10 mengenai ibu yang membunuh 3 anaknya akibat depresi. Menurut saya nama universitas dan kalimat...kerudung panjang yang dikenakannya bla bla, tidak perlu di tulis karena memberi kesan subjektif dan tendensius.

Secara keseluruhan, isi buku ini bagus, karena penulis bukan hanya mengajak pembaca memahami bagaimana meraih kebahagian dengan konsep ikhlas juga membuat paham konsep aktulisasi diri. Pemahaman ini bisa melecut para ibu, terutama ibu rumah tangga untuk menggali potensi dirinya dan berkarya dari rumah.  

Walaupun  buku ini lebih ditujukan untuk para ibu rumah tangga yang rentan stres tapi direkomendasikan untuk  semua ibu karena potensi stres ada di mana-mana. Di buku ini juga penulis memberikan kiat singkat agar ibu bekerja tidak dilanda perasaan bersalah berlebihan karena meninggalkan anak saat bekerja caranya dengan menerapkan konsep ikhlas. 

Kebahagian seorang ibu akan menciptakan rumah tangga harmonis dan  anak-anak yang  tumbuh dengan bahagia dan optimal, kunci untuk meraihnya adalah menerapkan konsep ikhlas dalam menjalani peran sebagai ibu. (rs)

ket:

*Saya tidak menemukan nama editor tercantum di buku ini.


Resensi ini diikutsertakan dalam Giveaway Bahagia Ketika Ikhlas



Kamis, Desember 04, 2014

Panduan Kehamilan untuk Muslimah




Judul Buku          : Panduan Kehamilan Muslimah
Penulis                 : Dr. Dr. H. Imam Rasjidi, SpOG(K) Onk
Penerbit              : Noura Books
Tahun                   : 2014 (cetakan ke 2)
Hal                          : 245
ISBN                      : 978-602-9498-38-7

Panduan Kehamilan Muslimah

Kehamilan adalah moment yang ditunggu pasangan suami istri. Bukan sekedar buah dari kasih sayang antara istri dan suami, fitrah ilahiah juga yang menjadikan pasangan suami istri bahagia saat seorang anak hadir dalam keluarga.

Kehamilan adalah proses yang panjang dan berat, jadi sebaiknya dipersiapkan dengan menjaga kesehatan fisik, mental dan membekali diri dengan pengetahuan sistem reproduksi.  Gunanya selain  untuk memudahkan ibu memahami perubahan yang akan dialami selama kehamilan, baik perubahan fisik maupun mental juga agar janin tumbuh sehat.

Kesehatan fisik di jaga dengan memulai pola hidup sehat seperti tidak merokok, olahraga teratur, makanan dan minuman yang dikonsumsi baik dan bergizi dan yang tak kalah penting menghindari stress. Sedangkan kesiapan mental di lakukan dengan cara menyadari sepenuhnya peran baru yang siap di emban yaitu sebagai ibu dan ini tentu akan merubah banyak hal dalam hidup. 
Proses hamil diawali dengan adanya pembuahan (konsepsi), perkembangan janin dalam rahim dan diakhiri dengan lahirnya bayi. Konsepsi terjadi ketika sel telur di buahi sperma, proses ini terjadi beberapa saat setelah melakukan hubungan intim suami istri (hal 2).

Kehamilan di tandai dengan keterlambatan haid dan meningkatnya hormon kehamilan yang bisa di deteksi melalui air urine setelah sekitar 10 hari terlambat menstruasi.

Perubahan fisik dan mental ini biasanya diikuti beragam keluhan, diantaranya pembesaran rahim menyebabkan kram perut. Perut bawah terasa sakit dan sering buang air kecil, akibat peregangan otot rahim dan ligamen penyangga rahim. Pergelangan dan jemari kaki bengkak akibat pembesaran rahim yang menekan pembuluh darah sehingga darah mengumpul di bagian bawah tubuh.

Perkembangan janin dari minggu ke minggu adalah hal menakjubkan. Semuanya terangkum secara dalam bab 3 (hal 39) yang membahas mengenai masa  kehamilan.

Pembentukan sistem pembuluh darah dan sistem saraf diikuti pembentukan organ vital terjadi saat ukuran janin dalam satuan milimeter bisa dikatakan sebagai pembuktian kekuasaan sang pencipta dan sesuai dengan firmanNya yang tertulis dalam AlQur’an

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah Pencipta yang Paling Baik (QS Al-Mu’minun (23):14)

Buku panduan kehamilan yang di tulis seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi   ini berbeda dengan buku panduang kehamilan pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada penulisannya yang dilihat dalam perspektif Islam.

Selain pembahasan secara ilmiah juga dilihat korelasinya dengan dalil AlQur,an , hadits atau pendapat para ulama. Dari mulai adab bersenggama,  pemilihan dokter kandungan laki-laki atau perempuan, perkembangan janin dari minggu keminggu sampai perawatannya.

Dalam agama  Islam, hubungan suami istri bernilai ibadah karena ini adalah jalan halal yang disediakan Allah untuk melampiaskan hasrat biologis insani dan menyambung keturunan Bani Adam. Karena tujuan mulai dan bernilai ibadah, pengetahuan adab hubungan suami istri dalam Islam sangat penting agar menghasilkan keturunan yang baik dan tidak terjebak dalam perilaku seksual yang bertentangan dengan ajaran agama (hal 25). Adab tersebut diantaranya; bersih dan suci, tidak dilakukan saat istri sedang haid, di tempat tertutup dan berdoa.

Perkembangan janin dari minggu ke minggu di bahas cukup detail, pengetahuan ini penting bagi ibu hamil agar dia tahu bagaimana menjaga dan merawat kehamilannya, mengetahui keluhan yang menyertai setiap tahap perkembangan dan mengetahui kapan dan apa stimulasi untuk bayi saat itu.
Pada minggu ke 16, Allah swt meniupkan ruh-Nya, seperti dalam sebuah Hadits “Sesungguhnya tia-tiap kamu di bentuk dalam perut ibunya 40 hari terbentuk nutfah (tetesan air), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama 40 hari, kemudian menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama 40 hari, kemudian dikirimkan kepadanya malaikat meniupkan ruh.”

Pada sebagain masyarakat pada minggu ini biasanya para orangtua mengadakan selamatan pengajian dan membaca surat Yusuf dan Maryam, dengan harapan anak yang dikandung memiliki kepribadian dan paras yang rupawan seperti Maryam atau Yusuf.

Nutrisi adalah hal penting yang harus di perhatian saat merawat kehamilan, karena nutrisi bukan hanya untuk fisik bayi juga perkembangan otaknya. Nutrisi bukan hanya baik juga halal (bab 3).
Bab 4 dalam buku ini menjelaskan tanda-tanda persalinan dan  informasi beragam cara melahirkan yang dirujuk dokter jika kelahiran normal tidak memungkinkan. Bab 5 dan 6 berisi informasi pasca persalinan yang meliputi perawatan bayi dan perubahan yang terjadi pada ibu.

Berbicara mengenai kelahiran bayi dalam perpektif islam, tidak bisa dilepaskan dari ‘ritual’  menyambut kelahiran bayi yang di perintahkan Allah SWT dan atau dicontohkan Nabi Muhammad saw, seperti akikah, cukur rambut dan khitan. Penjelasan mengenai ini beserta dalil dan hukumnya ada di bab 6. Sayang penjelasan mengenai cukur rambut pada bayi tidak di bahas sama sekali padahal itu adalah salah satu rangkaian menyambut kelahiran bayi yang di perintah dan dicontohkan rasulullah Muhammad saw, yang tujuannya bukan hanya membersihkan kotoran juga menshadaqohkan rambut setelah mengkonversikan beratnya dengan harga emas.

Begitupun penjelasan pada bagian vaksin yang sama sekali tidak disinggung pendapat alim ulama. Karena vaksin masih menjadi pro kontra, dengan memberikan penjelasan yang berimbang, dalil yang pro dan kontra, akan memudahkan para orangtua mengambil keputusan mengenai vaksin ini.
Ditulis dengan berpijak pada perpekstif islam, tentunya bukan hanya membuat ibu hamil paham mengenai kehamilan juga mengajak lebih dekat dengan sang Pencipta. Hubungan spiritual ini berpengaruh sangat positif pada ibu hamil.

Secara keseluruhan, buku ini bisa di jadikan panduan para ibu selama kehamilan karena bahasannya lengkap, informatif dengan bahasa mudah di cerna.


Jumat, Oktober 03, 2014

Apa Itu Homeschooling


Judul Buku         : Apa Itu Homeschooling
Penulis                : Sumardiono
Penerbit              : PandaMedia imprint GagasMedia
Tahun                 : 2014
Hal                     : 178
ISBN                  : 978-979-780-709-2











Apa Itu HomeSchooling

Saya mulai tertarik dengan ide homeschooling (HS) sejak secara tak sengaja ‘tersasar’ ke blog rumah inspirasi tahun 2010. Jadi waktu itu saya masih ngblog di multiply, karena teman di blog multiply ada yang homeschooling untuk anaknya, ‘nyasarlah’ saya ke blog mba Lala. Dan saya tertarik dengan ide homeschooling walaupun untuk menerapkannya masih terbentur ego J.

Ketertarikan yang membuat saya merasa harus siap jika tiba-tiba anak-anak mau homeschooling, misal si kecil sudah mengetahui minat dan bakatnya di usia sangat dini, sehingga dia tidak tertarik dengan pelajaran lain malah mogok sekolah. kata suami sih itu andai-andai yang berlebihan. Btw, saya merasa harus tahu dan siap aja sih.

Gagasan paling mendasar dari HS adalah tidak ada batasan apa saja yang harus dipelajari anak, batasannya hanya tidak melanggar aturan Tuhan dan tidak melanggar hukum. Dibangun berdasarkan nilai-nilai kebebasan bertanggung jawab pada orangtua atas arah pendidikan anak-anaknya (hal 3).

Bagaimana dengan kemampuan pengetahuan dan keterampilan orangtua yang terbatas? Di sinilah peran besar orangtua untuk mau belajar dan siap bekerja keras untuk anak-anaknya tapi jika tidak meumungkinkan pilihan mengleskan anak adalah jawabannya. Misal, jika orangtua kesulitan mengajarkan pelajaran bahasa Inggris, maka orangtua dapat mengeleskan anak pelajaran itu.

Namun jangan membayangkan HS sama dengan memindahkan belajar seperti di sekolah ke rumah, semua mata pelajaran di pelajari sesuai silabus dsb. HS lebih menekankan pada proses belajar yang sesuai bakat dan minat anak. Belajar dan apa yang dipelajari diselaraskan dengan kegiatan sehari-hari.

Misal, membiasakan anak untuk bertanggung jawab dengan dilatih melalui berbagai kegiatan di rumah seperti membersihkan rumah, menyiram tanaman dll. Sementara untuk hal yang bersifat akademis, proses belajar dimulai dengan rasa ingin tahu yang dikembangkan orangtua melalui proses mendidik dengan bertanya.

Homeschooling menerapkan model belajar modular yaitu proses belajar yang disusun berdasarkan mata pelajaran, bukan paket pelajaran. Anak belajar sesuai kecepatannya masing-masing untuk setiap mata pelajaran (hal 91).

Dalam sistem belajar modular,pada satu waktu tertentu anak bisa berada di jenjang yang berbeda misal kelas 6 untuk matematika, kelas 5 untuk bahasa Indonesia dan seterusnya.
Kunjungan ke tempat eduwisata bagi orangtua dan anak homeschooling menjadi agenda pembelajaran yang ‘wajib’, karena itulah salah satu media anak belajar.

Bagaimana jika anak homescooling ingin melanjutkan ke jenjang kuliah sehingga perlu ijasah? Siswa homeschooling harus melalui Ujian Kesetaraan atau Ujian Paket. Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA.

Sistem belajar homeschooling fleksibel bukan hanya dalam hal tempat belajar dan dana juga materi tambahan. Misal jika anak tertarik dengan pelajaran atau keterampilan tertentu (seni atau musik) bisa dileskan. Dan jika di sana ada bakat dan minatnya bisa difokuskan lebih cepat sehingga anak bisa menguasai bakat dan minatnya pada usia lebih dini.

Bagaimana anak-anak homeschooling bersosialisasi? Pertanyaan ini juga yang ada di benak saya jika si kecil homeschooling. Jawabannya ada dihalaman 43 buku ini; makna sosialisasi yang utama adalah penanaman nilai (value) dan membangun keterampilan sosial. Melalui keluarga, terbangun nilai-nilai apa yang seharusnya menjadi pegangan untuk interaksinya dengan teman dan masyarakat saat bertumbuh besar (hal 46).

Sedikit saya tambahkan mengenai sosialisasi, dari melihat blog teman-teman yang HS, umumnya mereka memiliki atau tergabung dengan komunitas HS, dan biasanya ada kegiatan bersama antara anak-anak HS, seperti pramuka. Jadi ini menjawab masalah sosialisasi anak-anak HS.

Evaluasi HS selain dilakukan melalui hasil ujian/tes  yang tak kalah penting adalah portofolio. Portifolio adalah dokumentasi yang menunjukkan catatan letertarikan dan gairah (passion) seseorang, yang terwujudkan dalam bentuk aksi dan output. Bisa dalam bentuk multimedia, foto, film atau penghargaan.

Buku yang ditulis praktisi HS ini bukan berisi panduan bagaimana homeschooling diterapkan pada lebih pada sebuah pengantar. Bagaimana awalnya gagasan homeschooling dan menerapkannya secara garis besar.

Sedikit tentang penulis buku ini; Sumardiono adalah praktisi Homeschooling. Sudah sebelas tahun menjalankan Homeschooling untuk ketiga anaknya. Tinggal di Jakarta Timur, kegiatannya homeschooling yang dilakukan penulis dan keluarganya bisa dilihat di www.rumahinspirasi.com









Sabtu, Agustus 02, 2014

Ayah Edy Punya Cerita




Judul Buku          : Ayah Edy Punya Cerita
Penulis                 : Ayah Edy
Penerbit              : Noura Books
Tahun                   : Februari  2014, cetakan ke 4
Hal                          : 290
ISBN                      : 978-602-7816-85-5

Membangun Indonesia Kuat dari Rumah

Gagasan membangun Indonesia yang kuat dari rumah yang dilontarkan Ayah Edy, seorang konsultan Parenting, Pendidikan dan Penulis buku ini, bukan tanpa alasan. Tahun 80-an, mahasiswa dan pelajar Malaysia dan Vietnam ke Indonesia untuk belajar, yang terjadi kini sebaliknya, pelajar dan mahasiswa kita menimba ilmu di sana. Kita mengekspor produk pertanian negara tetangga yang dulu belajar ilmu pertanian di negeri ini. Perguruan tinggi negara tetangga kini lebih maju. Kita tertinggal dari negara-negara yang dulunya belajar dari kita.

Penurunan kualitas ini tentu tak bisa diabaikan dan rumah adalah tempat yang tepat untuk memulai perubahan. Perubahan cara mendidik anak, membentuk perilaku anak yang baik dan membenahi sistem pendidikan. Orangtua adalah tonggak utama untuk perubahan ini karena orangtua berperan 70% dalam membentuk pola perilaku anak. Jika orangtua tidak melakukannya perannya dengan baik, lingkunganlah yang mengambil peran 70% (hal 27). Dan inilah yang menyebabkan anak-anak mudah tersesat dalam lingkaran pornografi, kekerasan dan narkoba.

Beberapa kesalahan orangtua dalam mendidik anak yang sering di temui adalah labeling negatif dan mendidik ala radio rusak. Labeling negatif yaitu mudahnya orangtua memberi kesimpulan buruk mengenai perilaku anak dan melabelkanya pada anak. Anak keras kepala, sulit diatur, gak mau diam, di labeli anak nakal. Padahal itu adalah satu proses wajar anak dalam tumbuh kembangnya. Sikap yang bisa menjadikannya berkarakter luar biasa jika orangtua bisa mengarahkannya. Anak ibarat kupu-kupu yang perlu waktu  untuk bisa bermetamorfosis menjadi manusia-manusia luar bisa di masa depan (hal 10).

Mendidik anak ala radio rusak adalah saat menyikapi perilaku anak yang tidak sesuai harapan kita seperti berhadapan dengan radio rusak. Saat radio mengeluarkan bunyi yang tak seharusnya atau mati, kita bisa memukul-mukul radio itu, dengan harapan bunyi radio kembali normal. Saat radio mati total barulah dibawa ke tukang reparasi.

Tidak banyak orangtua yang mau bersusah payah belajar menemukan masalah  dan mendapatkan solusinya. Orangtua sering kali memukul anaknya yang dianggap sedang ‘ngadat’ baik dengan kata-kata yang kasar ataupun dengan mempergunakan tangan (secara fisik) (hal 76)

Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan dengan berita, sebuah sekolah yang mengeluarkan murid-muridnya karena tidak bisa membaca. Sebuah cermin bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan dan guru sebagai pendidik. Sekolah hanya jadi tempat penyamaratakan kemampuan anak. Anak yang gagal di ujian bukan berarti dia gagal di kehidupan. Bisa jadi justru soal-soal ujianlah yang keliru untuk menilai potensi unggul anak-anak kita (hal 153).

Cerita sekolah binatang di halaman 243 adalah contoh analogi yang tepat. Dikisahkan ada sekolah binatang, untuk bisa lulus semua siswa yang adalah binatang harus lulus dalam ujian; terbang, berenang, memanjat, berlari dan menyelam.  Hasilnya bisa ditebak, tak ada binatang yang lulus. Begitu pun kemampuan anak-anak kita, yang tidak bisa disamakan satu sama lain. Penemuan teori Multiple Intelegen Howard Gardener makin menguatkan hal ini. Karena pada intinya semua anak bisa mencapai kesuksesan di masa depan karena mereka lahir dengan membawa potensi unggul. Tinggal bagaimana orangtua dan guru, sebagai pendidik utama menemukan dan mengarahkan potensi ini. Jika sistem sekolah tidak mampu maka pilihan home schooling adalah alternatif yang sangat perlu dipertimbangkan.

Uraian dalam buku inilah tidak berupa teori melainkan berbentuk cerita. Kebanyakan cerita merupakan kisah nyata. Kisah yang bisa dijadikan teladan untuk para orangtua dan guru dalam mendidik anak. Sehingga  pembaca tidak merasa diajari dan bisa melihat bukti nyata buah dari cara mendidik anak yang baik.

Sikap dan cara mendidik orangtua dan guru bukan  hanya berpengaruh pada keberhasilan anak di masa depan tapi juga perubahan bangsa. Memulai perubahan dari sekarang dan saat ini juga dari rumah.

Jumat, Maret 14, 2014

Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak



Judul Buku          : Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak
Penulis                : Ayah Edy
Penerbit              : Noura Books
Tahun                 : Februari  2014
Hal                     : 175
ISBN                 : 978-602-1606-38-4
Harga                  : rp.42.000,-

Memetakan  Potensi Unggul Anak Sejak Dini
resensor rina susanti

*resensi ini dimuat di koran jakarta beberapa hari lalu dan di edit cukup banyak sehingga menurut saya kurang komprehensif. Berikut versi asli sebelum di bedah editor korjak. Versi korjak bisa dilihat di sini 
Setiap anak lahir dengan membawa bibit unggul masing-masing. Anak yang memiliki bibit dokter jika dirawat dengan tepat, kelak ia akan tumbuh menjadi ‘pohon dokter’, begitu pun anak dengan bibit pelukis akan tumbuh menjadi ‘pohon pelukis’ jika diasah dan dikembangkan dengan baik. Sayangnya, bibit apa yang dimiliki seorang anak tidak terstempel di dahinya, orangtua dituntut jeli membaca petunjuk – petunjuk di bawa anak sejak lahir.  Anak yang membawa bibit pelukis, biasanya sejak kecil sudah terlihat senang menggambar dan memberikan hasil gambar yang kualitasnya baik ketika diajari.
Namun adakalanya orangtua ‘memaksakan’ minat dan bakat anak dengan tujuan agar kelak si anak sukses. Sukses yang umumnya dikaitkan dengan pekerjaan yang  bisa memberikan penghasilan besar.  Tak heran jika saat memasuki jenjang kuliah, banyak orangtua menuntut anak masuk jurusan-jurusan favorit tak peduli anak tidak berminat atau tidak berbakat terhadap bidang itu.
Akhirnya bibit pelukis tumbuh menjadi ‘pohon dokter’, bibit sutradara menjadi ‘pohon insinyur’.  Mereka tumbuh menjadi dokter atau insinyur tanggung karena bekerja dengan setengah hati, tidak bahagia  dan bekerja hanya demi uang.  Mereka tidak memiliki impian dan idealis sehingga peluang untuk melakukan korupsi  besar.
Padahal jika kelak seorang anak bekerja dan mencintai pekerjaannya – walaupun bukan pekerjaan yang katanya berpenghasilan besar – ia akan bekerja dengan sepenuh hati dan bukannya cuma sibuk memburu uang, justru uanglah yang akan mengejarnya (hal 13).

Di sinilah diperlukan kebesaran hati orangtua  jika ternyata potensi ungul anak tidak sesuai yang diinginkan, atau bukan potensi yang populer di kalangan masyarakat umum, misal anak berminat dan berbakat menjadi seorang dalang.

Mengetahui potensi unggul anak sejak dini, akan memudahkan orangtua mengasah dan mengembangkannya sejak dini pula sehingga saat memasuki usia remaja anak sudah memiliki impian dan tujuan masa depan. Anak yang sudah memiliki impian dan tujuan masa depan tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan buruk seperti tawuran, narkoba dan pergaulan bebas.

Selain itu, mengetahui potensi unggul anak sejak dini  sama dengan menyiapkan anak-anak kita menjadi sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi pasar bebas dan menjadi tuan di negara sendiri.
Seperti kita kita ketahui, era pasar bebas sudah dimulai sejak tahun 2010, tahun 2015 negara kita akan bersaing di Masyarakat Ekonomi ASEAN.  Tak lama lagi para pencari kerja akan bersaing dengan para pencari kerja dari berbagai negara ASEAN. Dan saat itu  yang dibutuhkan adalah SDM yang berkualitas dan spesialisasi (hal 17).

Bagaimana dengan anak yang diberi label tertentu oleh sekolah atau psikolog, seperti anak hiperaktif, autis, slow learner, disleksia. Label yang umumnya membuat para orangtua pesimis dan bingung dengan masa depan anaknya kelak. Banyak fakta sejarah bagaimana anak-anak yang dianggap ‘bodoh’ ternyata jenius sebuat saja Albert Einsten atau Thomas Alpha Edison, di keluarkan dari sekolahnya karena dianggap bodoh. Dari dalam negeri ada Marta Tilaar, beliau dulu dianggap anak slow learner, namun kini menjadi pengusaha sukses dan dikenal sebagai tokoh kecantikan yang sudah mendunia, kisahnya ada di halaman 104. Artinya, orangtua berperan penting menentukan kesuksesan seorang anak kelak bukan hanya sekolah.  Homeschooling bisa menjadi pilihan.  

Memetakan Potensi Unggul Anak
Bagaimana kita sebagai orangtua mengetahui potensi unggul anak? Dalam bukunya ini disebutkan lima langkah yang harus dilakukan orangtua untuk mengetahui potensi unggul anak.

Tapi sebelum kelima langkah itu dilakukan orangtua harus di pahami dulu apa itu minat dan bakat. Minat dan bakat/potensi biasanya berimpitan namun dua hal yang berbeda. Minat adalah aktivitas yang kita sukai dan merasa senang mengerjakannya tapi belum tentu aktivitas itu merupakan bakatnya. Sedangkan bakat berhubungan dengan hasil. Anak dengan bakat melukis misalnya, ketika di ajari melukis akan memberikan hasil signifikan.

Adapun lima langkah itu adalah; melakukan stimulasi, menentukan minat dan bakat anak, menguji coba minat dan bakat, penajaman profesi atau memberikan pengetahuan mengenai profesi yang kelak diinginkan anak sesuai minat dan bakatnya terakhir membuat rencana masa depan atau membuat rencana dan langkah-langkah yang harus di tempuh untuk anak mencapai kesuksesan dengan potensi unggul yang dimilikinya.

Hal lain yang ditekankan dalam buku ini adalah bahwa uang bukan segalanya, artinya keterbatasan uang bukan halangan untuk mengasah dan mengembangkan potensi unggul anak.

Buku ini ditulis Ayah Edy berdasarkan pengalamannya sebagai praktisi dan konsultan Parenting, jadi selain teori buku ini juga berisi contoh memetakan potensi unggul anak  dari klien Ayah Edy.  Ada juga kisah inspiratif dari orang-orang berbakat nomor satu di dunia dan bagaimana mereka ditemukan potensinya sejak dini oleh orangtua mereka, seperti pembalap dunia Michael  Schumacher   atau  Agnes Monica penyanyi yang mencapai kesuksesannya di usia belia.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk para orangtua dan calon orangtua.

Review buku Ayah Edy yang lain di sini 

versi korjak



Rabu, Februari 19, 2014

Dongeng Happy Seorang Mommy

Judul Buku          : Growing Pains
Penulis                 : Tatyana Soebianto
Penerbit              : GAIA
Tahun                   : 2013
Hal                          : 131
ISBN                      : 978-979-91-0664-3





Hidup buat saya adalah warna-warni yang tidak pernah sama dari hari ke hari. Tidak pernah bisa diduga-duga. Apa yang disangka pink manis ternyata kok merah perih, dikira ungu sengilu memar tulang kering ternyata malah secerah biru langit tak bermega. Saya rengkuh warna-warni itu, seperti menikmati pelangi sesudah hujan...MEJIKUHIBINIU-....

Itu adalah kutipan dari pengantar buku Growing Pains Tatyana seorang single mom dengan putra bernama Adi. Buku ini memang sekaya warna hati penulisnya J.  Ditulis dengan tuturan santai dan berwarna; lucu dan menyentuh.  Pun saat penulis yang menyebut dirinya Ibu di buku ini, menuliskan juga bagian di mana ia kerap berhadapan dengan pertanyaan...Kenapa bercerai? Atau: kenapa kamu gak kawin lagi? Atau, yang malah membingungkan Ibu: Lo nggak kasian ama anak lo, gak punya bokap? (hal 6) Pertanyaan yang lazim dilontarkan pada para single mom. But life must go on ...ada Adi yang harus diurus, di rawat dan diberi makan. Ibu harus fight bekerja untuk memberikan yang terbaik buat Adi.

Tak terasa sudah 20 tahun Ibu jadi single mom bagaimana perasaan Ibu? Berikut kutipan dari halaman 23; ...saya tetap manusia biasa. Homo sapiens yang juga homo rationis. Capek, bosan....jeleh atau bosan yang mengandung rasa eneg...pasti menyerang, karena toh saya bukan robot.

Hari –hari yang dilalui Ibu sebagai single mom memang tidak mudah tapi itu semua di lalui Ibu dengan baik, buktinya Adi tumbuh menjadi anak yang tak memiliki track record masalah di sekolah seperti yang banyak dialami anak yang berasal dari keluarga yang ibu bapaknya berpisah.  Tapi karena kelakuan Adi yang baik dan biasa itu pula, Ibu di panggil ke sekolah dan diminta penjelasan mengenai bapaknya Adi. Tentu saja Ibu kaget sekaligus senewen.
Ada kutipan percakapan lucu khas anak antara Ibu dan Adi yang ditulis di sini, kiat mengatur finansial yang dihadapi Ibu dan Adi di minggu-minggu pertama gajian sampai tanggal tua, Ibu dan Adi yang harus berbagi tugas, yang bukan hanya pekerjaan rumah tangga juga mengurus  Kuka, Kuki dan Nuri.

Tapi jangan membayangkan seperti uraian buku berisi tips dan trik, beberapa dibuat dalam bentuk kalikatur dan dialog lucu.

Buku ini memang mirip jurnal harian Ibu dan Adi, beberapa tulisan pernah  dipublis penulisnya di catatan facebook. Catatan – catatan  yang menuliskan bagaimana Ibu dan Adi tumbuh dan belajar satu sama lain.
Di review ini saya sengaja tidak mencantumkan kata ‘single’ karena isi buku ini memberi inspirasi pada para Ibu bagaimana  merengkuh semua warna hari yang dialami dan menjadikannya sebagai proses pembelajaran.

Beberapa quote inspiratif dalam buku ini;

...saya tidak berhenti penyemangati diri: Saya berhak bahagia, karena hanya diri sendiri yang bisa tentukan ke mana hidup ini harus di bawa...(hal 55)

...Cinta cuma butuh dua hal itu; Semangat dan Keberanian. Tanpa semangat dan keberanian, bahkan cinta seorang ibu pada anaknya pun akan menjadi cengeng (hal 105).

Minggu, Desember 01, 2013

Resensi : Diari Parenting


Penulis                 : Fita Chakra
Penerbit              : Gramedia
Tahun                   : 2013, Juni
Hal                          :  216
ISBN                      : 978-602-249-126-2
Harga                    : 39.000 IDR











Hal-hal penting tentang balita yang perlu diketahui bunda
Resensor Rina Susanti

Menjadi ibu adalah sebuah  tantangan, selain butuh pengetahuan juga kesabaran ekstra untuk menghadapinya.  Untunglah setiap ibu dibekali naluri yang membuatnya bisa menghadapi setiap tantangan.
Namun begitu begitu pengetahuan parenting  penting diketahui setiap ibu terlebih untuk menghadapi anak-anak pada usia balita. Walaupun setiap anak unik tapi pada usai ini permasalahan yang dihadapi khas dan hampir sama. Pada saat bersamaan, usia balita adalah masa keemasan dalam tumbuh kembang otak dan pembentukan perilakunya, jadi tanpa penanganan yang tepat pada setiap masalah yang dihadapi balita  akan berpengaruh pada perilakunya kelak.

Selasa, Oktober 29, 2013

Alternatif Sehat Tanpa Dokter


Judul Buku          : Anakku Sehat Tanpa Dokter
Penulis                 : Sugi Hartati, S.Psi
Penerbit              : Stiletto Book
Tahun                   : 2013, April
Hal                          :  187

Resensor Rina Susanti

(juara satu lomba resensi stiletto books)

Kekhawatiran orangtua saat menghadapi anak sakit kerap membuat mereka menginginkan solusi instan, alias anak sembuh secepatnya. Tak heran jika dalam masyarakat berkembang pemahaman, dokter bagus itu yang bisa menyembuhkan penyakit secepatnya.

Padahal sembuh membutuhkan proses. Jadi seharusnya orangtua curiga jika anak sembuh setelah satu atau dua kali minum obat. Yap, jangan-jangan itu karena antibiotik.  Padahal penyakit   khas anak-anak seperti flu disebabkan oleh virus sehingga tidak diperlukan antibiotik untuk penyembuhannya. 

Buku sehat tanpa dokter berisi

Minggu, Oktober 27, 2013

Menjadi Ibu, Bekerja dengan Hati


Judul Buku          : Don’t Worry to be a Mommy*
Penulis                 : dr. Meta Hanindita
Penerbit              : Stiletto Book
Tahun                   : 2013, September
Hal                          :  171

Resensor Rina Susanti

Menjadi Ibu itu rasanya luar biasa. Menjadi Ibu juga perjuangan. Beberapa Ibu harus bedrest selama hamil, Ibu lain bisa menjalaninya dengan mudah, begitupun saat melahirkan dan pasca melahirkan. Dan tidak semua Ibu mempersiapkan pengetahuannya mengenai ini, termasuk kesiapan mental karena beranggapan menjadi Ibu itu mudah karena  sudah kodrat  perempuan. Bisa dibayangkan betapa kagetnya ketika saya harus menghadapi perjuangan demi perjuangan sebagai Ibu begitu Naya lahir (hal 7), tulis Meta  Hanindita yang membagi perjuangan dan serunya sebagai Ibu baru  dalam buku Don’t Worry to be  Mommy (DWTM). 

Jumat, Oktober 04, 2013

@Anak Juga Manusia


Judul Buku          : @Anak Juga Manusia
Penulis                 : Angga Setyawan
Penerbit              :Noura Books (grup Mizan)
Tahun                   : Mei 2013
Hal                          : 175
ISBN                      : 978-602-7816-32-9

Anak Juga Manusia

Resensor Rina Susanti

resensi ini dimuat juga koran jakarta edisi 20 september 2013 bisa cek  di sini

Beberapa orangtua tidak menyadari, pentingnya belajar jadi orangtua, akibatnya mereka kerap dibuat bingung dengan perilaku anak dan mudah melabeli anak dengan kata-kata negatif. Padahal perilaku yang dilabeli orangtua negatif seperti tidak mau diam dan tantrum  adalah tahapan yang harus dilalui anak karena dorongan rasa ingin tahu yang besar dan emosinya yang belum stabil.

Rabu, April 10, 2013

Noda dan Warna Hidup



Judul Buku          :  Cerita Di Balik Noda

Penulis                :  Fira Basuki
Penerbit              :  Gramedia
Tahun                 :  Januari 2013
Tebal                  :  234 hal













Noda dan Warna Hidup

Beberapa orangtua membatasi interaksi anak dengan lingkungan di luar rumah dengan alasan agar anak pintar, berkelakuan baik dan sehat. Karena  persinggungan dengan dunia di luar rumah membuat anak dengan atau tanpa sengaja terkena kotor atau  jatuh dan terluka. Kotor identik dengan kuman dan menyebabkan sakit, jatuh dan luka membuat anak kesakitan, bergaul dengan anak berstatus sosial berbeda dikhawatirkan terpengaruh ketularan bahasa yang kasar. Namun beberapa orangtua melakukan hal sebaliknya. 

Seperti cerita Baju Kreatif (hal 179),  seorang ibu yang mendukung kreativitas putrinya, Salsa, mendaur ulang sampah plastik kemasan. Keterampilan yang didapat Salsa dari sekolah. walaupun untuk itu Salsa harus mengorek-ngorek sampah, mencari  sampah yang bisa didaur ulang.  Di luar dugaan, apa  yang dilakukan Salsa  ternyata menginspirasi lingkungan sekitarnya untuk berbuat hal yang sama, bahkan produk daur ulang tersebut menjadi lahan bisnis.

Lain dengan cerita Demi sekantung beras (hal 184), pertemanan Radya dengan Adi yang status sosial ekonominya rendah membuat Radya belajar arti sebuah kerja keras. Cerita berawal saat Radya menyaksikan beras yang dibeli Adi untuk keluarganya jatuh ke tanah yang becek. Didorong rasa kasihan Radya memberikan uang jajannya pada Adi namun ditolak. Adi lebih suka bekerja daripada diberi.

Cerita di atas adalah 2 dari 42 cerita dalam Buku Cerita Di Balik Noda. Tiga puluh delapan cerita dalam buku tersebut tersebut adalah cerita (true story) para ibu pemenang kontes Berani Kotor yang diadakan Rinso Indonesia beberapa waktu lalu, yang dikembangkan dan ditulis ulang  Fira Basuki, seorang penulis perempuan Indonesia yang telah menerbitkan buku-buku best seller. Empat cerita lain adalah tulisan Fira Basuki berdasarkan pengalaman orang lain yang di dengarnya.

Pemilihan cerita berjudul Bos Galak sebagai pembuka buku ini menurut saya sangat tepat.  Pesan yang disampaikan  mengenai noda dalam cerita ini  cukup menghentak. Cerita yang hampir serupa adalah Sarung ayah. Keduanya mengenai sebuah noda yang justru dikenang saat pemilik noda itu telah tiada. Cerita yang mendorong pembaca mengurutkan ingatan ke belakang mengenai noda yang pernah dibuat anak dan bagaimana saat itu kita menyikapi noda tersebut. Marahkah atau menertawainya sebagai hal yang lucu? Sikap yang nyatanya bisa berdampak besar. 

Cerita lain tak kalah menarik, walaupun memiliki thema besar yang sama yaitu bagaimana sebuah noda yang dibuat seorang anak selalu memiliki cerita penuh hikmah dan pembelajaran tapi karena setiap cerita beda dan unik, pembaca tidak akan  bosan saat membaca dari cerita satu ke cerita berikutnya. Pembelajaran mengenai empati seperti pada cerita Agi Tidak Pelit (173) dan Celengan (29) , toleran pada Teman Sejati (227), bekerja keras di cerita Demi Sekantung Beras (183)dan Penangjap Ikan Cupang (161), menciptakan kreativitas pada cerita  Batik Kreasi Ivan (122) dan lain sebagainya. Selain tentu saja karena kepiawaian Fira Basuki dalam menulis yang membuat buku ini enak di baca, bahasanya ringan dan sederhana.

Namun ada beberapa cerita yang terasa kurang natural, dilihat berdasarkan kesesuaian cerita dan kemampuan anak di usia tersebut. Misal cerita Nasi Bungkus Cinta (hal 38), Farhan (10 tahun) dan teman-temannya  memasak sendiri nasi bungkus yang diberikan kepada para korban banjir. Padahal dengan menyebutkan sedikit keterlibatan  orangtua teman Farhan dalam memasak tidak akan mengurangi esensi cerita, karena kepedulian Farhan dan teman-temannya yang dibarengi aksi untuk membantu korban banjir merupakan hal yang luar biasa untuk anak seusianya. Ditemukan juga kesalahan penulisan seperti di halaman 128 kata capek menjadi capai.

Terlepas kritik yang saya tulis di atas, semua cerita dalam buku ini membuka mata pembaca terutama orangtua, bahwa noda pada pakaian atau bagian tubuh anak tidak selalu identik dengan nakal, kotor, kuman dan penyakit.  Noda adalah akibat interaksi anak dengan lingkungan dimana dia belajar dan mencerna dari apa yang dirasakan, dilihat dan didengarnya. Selalu ada pelajaran yang di dapat anak dan orangtua dari noda yang dibuat anak sekecil apapun itu. Noda akan yang memberikan warna dalam hidup, haru, sedih atau lucu, saat mengenangnya kelak.  Berani kotor itu baik! (rs)


Review ini diikutsertakan dalam lomba   Kontes Ngeblog Review Buku 'Cerita Di Balik Noda' yang diadakan Rinso Indonesia dan Kelompok Emak-Emak Blogger.